<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="3590">
 <titleInfo>
  <title>Meraih Hakikat Melalui Syariat:</title>
  <subTitle>Telaah Pemikiran Syekh Al-Akbar Ibn Arabi</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Dr. Eric Winkel</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Mizan</publisher>
   <dateIssued>2005</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>264 hlm; 20,5 x 13 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Betapa banyak umat Muslim yang terjebak melaksanakan ritual-formal syariat tanpa memahami dan menghayati hakikat dan esensi yang dikandungnya. Di lain pihak, betapa banyak pula yang meremehkan, bahkan sampai berani meninggalkan, ritual-formal syariat dengan beralasan bahwa pengamalan ritual-formal syariat tidak diperlukan lagi setelah hakikat dan esensinya dipahami. Dua titik ekstrem ini senantiasa menghiasi wajah umat Islam, mulai dari zaman-zaman awal hingga zaman modern kini. Karena itu, sejumlah ulama telah melakukan berbagai upaya untuk menjembataninya.&#13;
&#13;
Kita mungkin sudah mengenal Imam Al-Ghazali yang, dengan kitab Ihya ’Ulumuddin-nya, sudah berupaya mengawinkan kembali sisi ritual-formal syariat dengan esensi dan hakikatnya. Namun, belum banyak yang mengetahui bahwa Ibn ’Arabi (1165-1240 M) –tokoh sufi Andalusia yang masyhur dengan doktrin wihdah al-wujud-nya ini—juga memiliki perhatian yang besar terhadap isu dikotomi antara syariat dan hakikat ini. Bahkan, ia senantiasa menekankan pentingnya mengamalkan syariat dengan benar seraya memahami dan menghayati tujuan batin dan hakikat yang dikandungnya.&#13;
&#13;
Dalam buku ini, kita akan melihat bagaimana sang sufi memahami dan mendefinisikan syariat sebagai suatu nilai dan sebagai suatu hukum, tanpa terjebak mengorbankan sisi ritual-formal dan tujuan esensial-hakikinya. Kita juga akan melihat bahwa, berbeda dengan pemikir-pemikir sufi biasanya, Ibn ’Arabi tidak membedakan antara syariah –yang dikatakannya merupakan redaksi materi hukum—dan haqiqah, yaitu rahasia dan makna spiritual hukum tersebut. Menurutnya, syariah seutuhnya sejalan dengan haqiqah dan keduanya merupakan wujud yang hakiki.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>SYARIAT ISLAM</topic>
 </subject>
 <classification>297. 23 Hrp n</classification>
 <identifier type="isbn">9794334057</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Guided by Faith and Knowledge YPSA Digital Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>297. 23 Hrp n</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">000529</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator></shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Meraih_Hakikat_Melalui_Syariat.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>3590</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2023-08-22 14:53:50</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-08-22 15:06:08</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>